Meningkatkan Kapabilitas Pemahaman Terkait Strategi Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

12-08-18 ilham hanif 0 comment

06

Pekanbaru, 9 Agustus 2018. Inspektorat Jenderal Kemenristekdikti mengadakan kegiatan Workshop dengan tema “Strategi Pencegahan Tindak Pidana Korupsi” yang dilaksanakan di Universitas Riau. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Jamal Wiwoho, Inspektur I Kemenristekdikti Mohamad Hardi, Inspektur II Kemenristekdikti Dadit Herdikiagung, Inspektur III Yohanes Indrayono, Wakil Rektor II Universitas Riau Sujianto, Ketua Senat Universitas Riau, para Dekan dan Guru Besar Universitas Riau, Auditor, serta anggota SPI dari beberapa Satker di zona Sumatera.

Dalam mengawali kegiatan, Wakil Rektor II Unri menyampaikan bahwa strategi pencegahan tindak pidana korupsi harus benar-benar dicamkan dalam setiap kegiatan di Universitas manapun. “Kita tidak mau lagi mendengar kawan-kawan kita atau kita dalam penyelenggaraan universitas ini sudah capek-capek malah nanti berhadapan dengan hukum”, pungkas beliau dalam sambutannya.

Inspektur Jenderal Kemenristekdikti memaparkan “Etika Pengadaan Barang dan Jasa” yang sejatinya ini menjadi kunci penyelenggaraan di setiap Universitas. “Sejak tahun 2011 kesini, perguruan tinggi kita banyak diganggu dalam proses khususnya yang berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa”, ujar pak Jamal.

Dalam paparannya Inspektur Jenderal juga menekankan bahwa pentingnya peran SPI dalam mengawal setiap penyelenggaraan di Perguruan Tinggi manapun. “Harapan kami bahwa rekan-rekan SPI sebagai garda terdepan didalam kerangka Good University Governance mampu mengawal setiap proses-proses yang ada di perguruan tinggi”, sambungnya.

“Terdapat informasi dari Transparansi Masyarakat Indonesia terkait potensi tindak pidana korupsi di Perguruan Tinggi. Ada 9 Perguruan Tinggi yang sudah terkena masalah korupsi didalam pengadaan barang dan jasa. Yang pertama terdapat di Universitas Udayana, terkait pengadaan alat kesehatan pada rumah sakit pendidikan. Yang kedua adalah Universitas Jambi, terkait pengadaan alat kesehatan rumah sakit pendidikan. Yang ketiga adalah Universitas Jenderal Soedirman, terkait kerja sama dengan Aneka Tambang. Selanjutnya adalah Universitas Negeri Makassar, terkait pengadaan alat laboratorium.  Lalu ada Universitas Indonesia pada pengadaan instalasi infrastruktur teknologi informasi di Perpustakaan UI. Berikutnya ada Universitas Negeri Malang pada pengadaan alat laboratorium. Selanjutnya adalah Universitas Airlangga terkait pengadaan alat kesehatan pada rumah sakit pendidikan. Kemudian ada Universitas Bangka Belitung terkait pembangunan gedung auditorium. Dan Universitas Lambung Mangkurat terkait pengadaan alat laboratorium. 9 Universitas rupanya belum lengkap, masih ada beberapa yang belum kami tinjau lagi”, jelas Inspektur Jenderal.

DSC07555

 

Berikutnya Inspektur I Kemenristekdikti berkesempatan menyampaikan paparan yang berjudul “Pencegahan Korupsi Dalam Pelaksanaan Anggaran”. Beliau menyampaikan bahwa tindak pidana korupsi diawali dengan keinginan untuk memperkaya diri atau orang terdekat dengan cara memanfaatkan anggaran yang tersedia, hal inipun juga berkaitan dengan tindakan suap-menyuap yang kerap terjadi di beberapa sektor.

“Terdapat 3 Upaya dalam memberantas korupsi, yang pertama Upaya Preventif yaitu bagaimana mengendalikan faktor pendorong timbulnya korupsi. Yang kedua Upaya Investigatif, bagaimana mendeteksi, menginvestigasi, dan tindak lanjut hasil investigasi atas dugaan korupsi. Dan yang ketiga Upaya Edukatif, bagaimana meningkatkan public awareness tentang korupsi”, tegas pak hardi.